Your web-browser is very outdated, and as such, this website may not display properly. Please consider upgrading to a modern, faster and more secure browser. Click here to do so.
Berhijab atau tidak itu pilihan. Tergantung selera. Saya tak ingin melakukan judgement apalagi menakut-nakuti dengan dalil agama. Saya bersyukur secantik apapun seorang wanita muslim tapi tak berhijab maka di mata saya kecantikannya luntur. Ya itulah selera saya :D
— rifkihidayat
51 notes (via rifkihidayat)
145 notes (via kuntawiaji)
Kita menjadi ASING karena prinsip hidup kita.
Jujur itu ASING karena banyak orang berdusta.
Shadaqah itu ASING karena bayak orang pelit.
Berjilbab itu ASING Karena banyak orang membuka aurat.
Tidak pacaran itu ASING karena banyak orang yang pacaran.
Yakin pada Allah itu ASING Karena banyak orang yang tidak percaya lagi pada-Nya.
Mewujudkan SYARI’AH Islam itu ASING karena banyak orang yang lebih percaya pada hukum buatan manusia.
Islam mulai muncul dalam keadaan ASING dan akan kembali ASING sebagaimana awal munculnya. Maka beruntunglah orang-orang yang ‘asing’ itu.”
(HR. Muslim)
“‘Berbahagialah orang-orang yang ‘asing’.’
‘Siapakah orang-orang asing itu wahai Rasulullah?’
‘Yaitu orang-orang yang senantiasa melakukan perbaikan disaat kebanyakan orang berbuat kerusakan.’
(HR. Muslim)
Foto dan tulisan diambil dari Syahidah.
Mau berjilbab atau tidak, itu kan hak saya.
(Source: facebook.com)
- Saya nggak mau kerudungan! kerudungan itu kuno | “Lha, itu zaman flinstones, lebih kuno lagi, nggak pake kerudung”
- Tapi kan itu kan hal kecil, kenapa kerudungan harus dipermasalahin?! | “Yang besar-besar itu semua awalnya kecil yg diremehkan”
- Yang penting kan hatinya baik, bukan lihat dari kerudungnya, fisiknya! | “trus ngapain salonan tiap minggu? make-upan? itu kan fisik?”
- Kerudungan belum tentu baik | “betul, yang kerudungan aja belum tentu baik, apalagi yang…(isi sendiri)”
- Saya kemarin liat ada yg kerudungan nyuri! | “so what? yg nggak kerudungan juga banyak yang nyuri, gak korelasi kali”
- Artinya lebih baik kerudungin hati dulu, buat hati baik! | “yup, ciri hati yg baik adl kerudungin kepala dan tutup aurat”
- Kalo kerudungan masih maksiat gimana? dosa kan? | “kalo nggak kerudungan dan maksiat dosanya malah 2”
- Kerudungan itu buat aku nggak bebas! | “oh, berarti lipstick, sanggul, dan ke salon itu membebaskan ya?”
- Aku nggak mau dibilang fanatik dan ekstrimis! | “nah, sekarang kau sudah fanatik pada sekuler dan ekstrim dalam membantah Allah”
- Kalo aku pake kerudung, nggak ada yang mau sama aku!? | “banyak yang kerudungan dan mereka nikah kok”
- Kalo calon suamiku gak suka gimana? | “berarti dia tak layak, bila didepanmu dia tak taat Allah, siapa menjamin dibelakangmu dia jujur?”
- Susah cari kerja kalo pake kerudung! | “lalu membantah perintah Allah demi kerja? emang yang kasi rizki siapa sih? bos atau Allah?”
- Kenapa sih agama cuma diliat dari kerudung dan jilbab? | “sama aja kayak sekulerisme melihat wanita hanya dari paras dan lekuk tubuh”
- Aku nggak mau diperbudak pakaian arab! | “ini simbol ketaatan pada Allah, justru orang arab dulu gak pake kerudung dan jilbab”
- Kerudung jilbab cuma akal2an lelaki menindas wanita | “perasaan yg adain miss universe laki2 deh, yg larang jilbab di prancis jg laki2”
- Aku nggak mau dikendalikan orang ttg apa yg harus aku pake! | “sayangnya sudah begitu, tv, majalah, sinetron, kendalikan fashionmu”
- Kerudung kan bikin panas, pusing, ketombean | “jutaan orang pake kerudung, nggak ada keluhan begitu, mitos aja”
- Apa nanti kata orang kalo aku pake jilbab?! | “katanya tadi jadi diri sendiri, nggak peduli kata orang laen…”
- Kerudng dan jilbab kan nggak gaul?! | “lha mbak ini mau gaul atau mau menaati Allah?”
- Aku belum pengalaman pake jilbab! | “pake jilbab itu kayak nikah, pengalaman tidak diperlukan, keyakinan akan nyusul”
- Aku belum siap pake kerudung | “kematian juga nggak akan tanya kamu siap atau belum dear”
- Mamaku bilang jangan terlalu fanatik! | “bilang ke mama dengan lembut, bahwa cintamu padanya dengan menaati Allah penciptanya”
- Aku kan gak bebas kemana-mana, gak bisa nongkrong, clubbing, gosip, kan malu sama baju! | “bukankah itu perubahan baik?”
- Itu kan nggak wajib dalam Islam!? | “kalo nggak wajib, ngapain Rasul perintahin semua wanita Muslim nutup aurat?”
- Kasih aku waktu supaya aku yakin kerudungan dulu | “yakin itu akan diberikan Allah kalo kita sudah mau mendekat, yakin deh”
(Source: plus.google.com)
237 notes (via achmadlutfi & hisani)
Saat itu saya masih SMA. Masih unyu dan labil, serta memakai jilbab. Komentar orang lain tentang jilbab saya saat itu, yang masih saya ingat sampai sekarang adalah:
“Kamu jilbaban gitu, ribet banget, mbok dilepas aja, nanti kamu susah dapet kerja lho. Perusahaan-perusahaan yang bagus sekarang jarang ada yang mau sama cewek jilbaban kayak kamu itu.”
Karena waktu itu saya masih sangat labil dan kurang pandai bicara, saya hanya menjawab:
“Nggak pa-pa Pak saya tetep begini aja. Pasti tetep ada yang mau.” Dan, sekali lagi, karena saya masih sangat labil, saya langsung mau nangis hanya karena komentar itu. Haha.
Jilbab bagi saya sangat penting. Tidak sekedar aturan tapi juga perlindungan. Saat SMP saya pernah ‘disentuh’ dengan tidak sopan oleh sopir bis, dan kemudian saya tahu hal itu terjadi karena saya berpakaian agak ketat (waktu itu belum berjilbab). Sejak itu saya langsung trauma dan tidak mau berpakaian ‘pas-pasan’ lagi, maksud saya yang terlalu pas di badan sehingga menonjolkan bagian tubuh terlalu jelas.
Selain itu, bagi saya berjilbab itu pilihan. Pilihan apakah seorang wanita mau mengikuti ayat di Al Qur’an atau tidak. Pilihan apakah dia mau mengikuti Rasulullah atau tidak. Beberapa ada yang beralasan, karena tuntutan pekerjaan, ia ‘terpaksa’ berpakaian seksi. Demi mencari sesuap nasi dan menghidupi keluarga, ia ‘terpaksa’ membuka jilbabnya. Itu pilihan. Bukan ‘terpaksa’. Tak ada yang bisa memaksanya kalau dia mau. Seperti perusahan-perusahaaan bagus yang dibilang oleh bapak-bapak kepada saya itu, kalau saya tetap memillih memakai jilbab, perusahaan-perusahaan itu tidak bisa membuat saya ‘terpaksa’ membuka jilbab. Namun kalau saya lebih memilih mencari sesuap nasi, maka itulah pilihan saya, bukan karena ‘terpaksa’ atau alasan lain seperti ‘belum siap’.
Begitulah. Saya sangat menghormati dan mengagumi orang-orang yang berpegang teguh pada pilihannya untuk berjilbab, dan tetap memilih memakainya meskipun kondisi sekitarnya selalu mendorongnya ‘terpaksa’ membuka jilbab. Itulah orang-orang terkuat menurut saya. Saya selalu ingin belajar dari mereka.