Background: Nature Clouds, by cubagallery

Ada orang yang sudah berkeliling dunia, menjelajah kemana-mana, bertemu dengan bermacam-macam warna kulit dan suku bangsa, tapi pikirannya masih dangkal, hatinya sempit, tak secuilpun kebijaksanaan yang dipunyainya.

Ada pula orang yang setiap hari hanya bisa duduk di ruangan sempit, terkungkung dengan rutinitas-rutinitas itu-itu saja, tak pernah berpindah, tak pernah bepergian, tapi pikirannya dalam, hatinya lapang, kebijaksanaannya berlimpah.

Ternyata benar, bahwa urusan ilmu dan hidayah, hanya Sang Pencipta yang memegang kendali. Jika Pencipta menghendakinya, seorang yang tak berpendidikan pun bisa memiliki kebijaksanaan berlimpah. Sebaliknya, bila hati dan pikiran sudah ditutup oleh Penciptanya, tak secuilpun ilmu bisa masuk, sekalipun ia sudah mengitari seluruh dunia.

ratnalaila
(Picture by Ana Teresa Barboza, via imustbeamermaidrango)

Reblogged from twitulama  14 notes

Akal bisa mengetahui bahwa segala yang ada ini punya 1 pencipta, 1 tuhan. Tapi akal tidak mungkin bisa mengetahui dengan sendirinya apa yang dicintai oleh Tuhan.

Oleh karenanya, Dia turunkan kitab dan Dia utus para Rasul untuk memberi petunjuk kepada manusia.

@dr_abusalah - Dr Muhammad Hisyaam Thaahiri, mendapatkan gelar Doktor dari Fakultas Akidah Universitas Islam Madinah, Imam dan Khotib di Kementrian Wakaf Kerajaan Arab Saudi. (via twitulama)
(Picture via yoonarinyoo)

Reblogged from air-sunyi  3 notes

Ada orang yang sibuk MEMBUKTIKAN keberadaan Tuhan, dengan cara memperlakukan-Nya sebagai benda mati..! Padahal DIA kan Maha Hidup dan Maha BERKEHENDAK?

Kalau Dia mau, ya Dia akan ‘menampakkan’ Diri, dan kita menyebutnya ‘terbukti’. Tapi kalau Dia tidak mau, dan lantas ‘tidak menampakkan’ Diri, orang ateis menyebutnya sebagai ‘tidak terbukti’… :(

QS. Fushshilat (41): 53-54
Kami akan MEMPERLIHATKAN kepada mereka (orang-orang yang percaya kepada Allah) tanda-tanda (keberadaan) Kami di seluruh penjuru Bumi dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu benar. Tidak cukupkah (bagimu) bahwa sesungguhnya Tuhanmu menyaksikan segala sesuatu?

Ketahuilah, sesungguhnya mereka (orang-orang yang tidak percaya Tuhan itu) berada di dalam KERAGUAN tentang pertemuan dengan-Nya. (Padahal) ingatlah, sesungguhnya Dia (sudah hadir) meliputi segala sesuatu.

Agus Mustofa (via tigakomaempatbelas)

Reblogged from zahidhdr  3 notes

Anda tak perlu terkejut manakala menghadiahkan sebatang pena kepada orang bebal, lalu ia memakai pena itu untuk menulis cemoohan kepada Anda. Itu semua adalah watak dasar manusia yang selalu mengingkari dan tak pernah bersyukur kepada Penciptanya sendiri Yang Maha Agung nan Mulia.

Begitulah, kepada Tuhannya saja mereka berani membangkang dan mengingkari, maka apalagi kepada saya dan Anda. @zahidhdr (via zahidhdr)

PERAN

Waktu itu aku naik angkot ke arah kampus. Di jalan, aku mengamati aktivitas orang-orang. Kulihat di luar orang-orang kesana kemari seperti sedang diburu waktu. Ada pengendara motor yang wajahnya kepanasan, ada tukang parkir yang berkeringat dan sibuk mengatur mobil-mobil, ada pedagang kaki lima mencari-cari plastik untuk bungkus makanan yang dijualnya, ada pemuda-pemuda seusiaku dengan ransel besarnya, ada pengemis-pengemis, tukang sol sepatu, bapak-bapak berjalan kaki yang wajahnya berpikir keras, semuanya bergerak, semuanya berjalan. Semuanya sedang menjalankan peran.
Ya. Semuanya sedang menjalankan peran yang entah mereka bersedia atau tidak, peran itu harus dimainkannya. Semua sibuk. Semua bergerak. Bahkan pengangguran paling malas pun tetap menjalankan perannya.

Lalu aku kesal pada diriku sendiri. Apa peranku di sini? Sudahkah aku menjalankan peran yang diberikan padaku? Sudahkah orang lain merasakan manfaat dari peran yang kubawakan, apapun itu? Bagaimana bila ada ‘Sang Sutradadara’ Agung yang memberikan peran itu namun aku ternyata tidak profesional menjalankannya? Bagaimana kalau nanti aku dimintai pertanggungjawaban atas peran yang tidak kumainkan dengan baik itu?

Tiba-tiba aku merasa begitu kerdil dan tak berguna.

— Ratna
Picture: "Piazza" by Dale Wylie

Kesepian terhebat, kekasih, bukan ketika kita saling jauh satu sama lain. Melainkan ketika kita jauh dari Tuhan yang telah mempersatukan cinta kita. Ratna

Renungan Pagi dari Ali Bin Abi Thalib R.A yang Dituangkan di FB Muchsin (Seorang yang Tertembak Mati Oleh Densus 88 di Solo Kemarin)

"Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas keimanan, keimanan hanya tinggal pemikiran, yang tak berbekas dalam perbuatan.

Banyak org baik tapi tak berakal,
ada orang berakal tapi tak beriman.

Ada lidah fasih tapi berhati lalai,
ada yang khusyuk tapi sibuk dalam kesendirian.

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis,
ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi.

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat,
ada yg menangis karena kufur nikmat.

Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat,
ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.

Ada yg berlisan bijak tapi tak memberi teladan,
ada pelacur yang tampil jadi figur.

Ada orang yang punya ilmu tapi tak paham,
ada yang paham tapi tak menjalankan.

Ada yang pintar tapi membodohi,
ada yang bodoh tak tahu diri.

Ada orang beragama tapi tak berakhlak,
ada yang berakhlak tapi tak bertuhan.

Lalu d iantara semua itu dimanakah aku berada…??”

— Ali bin Abi Thalib R.A.