Your web-browser is very outdated, and as such, this website may not display properly. Please consider upgrading to a modern, faster and more secure browser. Click here to do so.
Ada orang yang sibuk MEMBUKTIKAN keberadaan Tuhan, dengan cara memperlakukan-Nya sebagai benda mati..! Padahal DIA kan Maha Hidup dan Maha BERKEHENDAK?
Kalau Dia mau, ya Dia akan ‘menampakkan’ Diri, dan kita menyebutnya ‘terbukti’. Tapi kalau Dia tidak mau, dan lantas ‘tidak menampakkan’ Diri, orang ateis menyebutnya sebagai ‘tidak terbukti’… :(
QS. Fushshilat (41): 53-54
Kami akan MEMPERLIHATKAN kepada mereka (orang-orang yang percaya kepada Allah) tanda-tanda (keberadaan) Kami di seluruh penjuru Bumi dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu benar. Tidak cukupkah (bagimu) bahwa sesungguhnya Tuhanmu menyaksikan segala sesuatu?
Ketahuilah, sesungguhnya mereka (orang-orang yang tidak percaya Tuhan itu) berada di dalam KERAGUAN tentang pertemuan dengan-Nya. (Padahal) ingatlah, sesungguhnya Dia (sudah hadir) meliputi segala sesuatu.
Waktu itu aku naik angkot ke arah kampus. Di jalan, aku mengamati aktivitas orang-orang. Kulihat di luar orang-orang kesana kemari seperti sedang diburu waktu. Ada pengendara motor yang wajahnya kepanasan, ada tukang parkir yang berkeringat dan sibuk mengatur mobil-mobil, ada pedagang kaki lima mencari-cari plastik untuk bungkus makanan yang dijualnya, ada pemuda-pemuda seusiaku dengan ransel besarnya, ada pengemis-pengemis, tukang sol sepatu, bapak-bapak berjalan kaki yang wajahnya berpikir keras, semuanya bergerak, semuanya berjalan. Semuanya sedang menjalankan peran.
Ya. Semuanya sedang menjalankan peran yang entah mereka bersedia atau tidak, peran itu harus dimainkannya. Semua sibuk. Semua bergerak. Bahkan pengangguran paling malas pun tetap menjalankan perannya.
Lalu aku kesal pada diriku sendiri. Apa peranku di sini? Sudahkah aku menjalankan peran yang diberikan padaku? Sudahkah orang lain merasakan manfaat dari peran yang kubawakan, apapun itu? Bagaimana bila ada ‘Sang Sutradadara’ Agung yang memberikan peran itu namun aku ternyata tidak profesional menjalankannya? Bagaimana kalau nanti aku dimintai pertanggungjawaban atas peran yang tidak kumainkan dengan baik itu?
Tiba-tiba aku merasa begitu kerdil dan tak berguna.
— Ratna
Picture: “Piazza” by Dale Wylie
Apa yang bisa kita sombongkan hari ini?
Duit? Pekerjaan? Prestasi? Baju bermerk? Tampang?
Sehebat apapun, kita tetap debu tak berarti dibandingkan kekuasaan Tuhan. Dia bisa menggilas kepunyaan yang kita sombongkan itu sewaktu-waktu.
Picture: “Sandstorm” by Kyle Thompson
3,432 notes (via kylejthompson)
“Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas keimanan, keimanan hanya tinggal pemikiran, yang tak berbekas dalam perbuatan.
Banyak org baik tapi tak berakal,
ada orang berakal tapi tak beriman.
Ada lidah fasih tapi berhati lalai,
ada yang khusyuk tapi sibuk dalam kesendirian.
Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis,
ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi.
Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat,
ada yg menangis karena kufur nikmat.
Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat,
ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.
Ada yg berlisan bijak tapi tak memberi teladan,
ada pelacur yang tampil jadi figur.
Ada orang yang punya ilmu tapi tak paham,
ada yang paham tapi tak menjalankan.
Ada yang pintar tapi membodohi,
ada yang bodoh tak tahu diri.
Ada orang beragama tapi tak berakhlak,
ada yang berakhlak tapi tak bertuhan.
Lalu d iantara semua itu dimanakah aku berada…??”
— Ali bin Abi Thalib R.A.
(Source: facebook.com)
untuk yang gemar mempermainkan tuhan, untuk yang ingin akrab dengannya
Jika kau kira berseraknya pelanggaran karena terlalu banyak larangan, lalu berapa larangan untuk nenek moyangmu di surga waktu itu?
2 notes (via muhammadakhyar)