Background: Nature Clouds, by cubagallery

PERJALANAN TERJAUH

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid. Banyak orang kaya raya tidak sanggup mengerjakannya. Jangankan sehari lima waktu, bahkan ada yang seminggu sekali pun terlupa. Tidak jarang pula seumur hidup tidak pernah singgah ke sana.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid .
Orang pintar dan pandai pun sering tidak mampu menemukannya. Mereka mampu mencari ilmu hingga ke Eropa juga Amerika, dapat melangkahkan kaki Ke Jepang dan Korea. Namun ke masjid saja tidak mampu mereka tempuh walau telah bergelar S3.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid.Para pemuda kuat dan bertubuh sehat yang mampu menaklukkan puncak gunung Bromo dan Merapi pun sering mengeluh ketika diajak ke masjid. Ada yang berkata sebentar lagi, ada yang berucap tidak nyaman dianggap alim.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid. Maka berbahagialah dirimu sahabat, bila dari kecil engkau telah terbiasa melangkahkan kaki ke masjid. Bagi kami, sejauh manapun engkau melangkahkan kaki, tidak ada perjalanan yang paling kami banggakan selain perjalananmu ke masjid.

Biar kuberi tahu rahasia kepadamu, sejatinya perjalananmu ke masjid adalah perjalanan untuk menjumpai Tuhanmu. Itulah perjalanan yang diajarkan oleh Nabi, serta perjalanan yang akan membedakanmu dengan orang-orang yang lupa Tuhannya.

Perjalanan terjauh dan terberat itu adalah perjalanan ke masjid. Lakukanlah walau engkau harus merangkak dalam Shubuh gulita.

AllahuAkbar


Sumber: Sebuah pesan pendek di WhatsApp Messenger

Masjid seharusnya tidak hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga menjadi pusat peradaban. Masjid perlu dilengkapi dengan ruang pendidikan, ruang untuk mengkafani dan men-shalati jenazah, ruang bermain untuk anak, ruang berolahraga, agar semua orang bersemangat untuk memeriahkan masjid. Khazanah Trans7 ~ Episode: Memakmurkan Masjid

Reblogged from kuntawiaji  221 notes

Kabar Untuk Anda

kuntawiaji:

Saya punya kabar untuk Anda: umur Anda mungkin tinggal hari ini saja
Teman-teman dan rekan kerja akan Anda tinggalkan di dunia
Diri Anda hanya akan tinggal nama
Kenangan-kenangan indah masa kecil akan terlupa

Saya punya kabar untuk Anda: umur Anda rasanya hanya sampai sore hari ini saja
Deadline tugas esok hari tidak ada lagi artinya
Ketakutan Anda juga sia-sia saja
Dua lembar uang seratus ribu di dompet Anda lebih-lebih tidak ada lagi nilainya

Saya punya kabar untuk Anda: umur Anda sangat mungkin berakhir hari ini saja
Anda tidak perlu mengkhawatirkan lagi tentang masa depan Anda
Tidak perlu Anda pedulikan lagi siapa presiden Indonesia berikutnya
Tidak usah Anda risaukan lagi perkataan orang mengenai diri Anda

Saya punya kabar untuk Anda: kalau umur Anda tinggal hari ini, itu apa artinya bagi Anda?
Apakah itu baik sehingga Anda menyambutnya dengan senang hati?
Apakah itu buruk sehingga begitu merisaukan lubuk hari Anda?
Apakah Anda tidak peduli apapun kabar mengenai diri Anda hari ini?

Saya punya kabar untuk Anda: kabar untuk Anda itu benar adanya. Suatu hari, umur Anda hanya tinggal satu hari saja. Hanya Anda tidak tahu saja.

Untuk Sahabat Hidupku

Sayang,

Maafkan aku karena aku tak selalu bisa menyambut kepulanganmu dengan wajah cantik. Tapi akan selalu kuusahakan menyambutmu dengan senyumku.
Diam-diam aku membeli masker pencerah wajah agar selalu menyenangkan untuk kau pandang sepulang kerja.

Maafkan aku tak selalu bisa berdandan.
Aku selalu iri melihat teman-teman kerjamu yang begitu mahir memoleskan warna hijau, oranye, ataupun biru itu di kelopak mata mereka.
Baru-baru ini aku diam-diam mencobanya dengan eyeshadow yang juga diam-diam kubeli tanpa sepengetahuanmu. Alih-alih cantik, aku malah terlihat seperti penari di perempatan yang pernah kau tertawakan itu, karena itu buru-buru kubasuh wajahku.
Entah sudah keberapa kalinya aku mencoba makeup-makeup itu, Sayang, dan selalu berakhir dengan aku yang mengasihani diri di cermin.

Maafkan aku yang selalu terlihat seperti babby sitter alih-alih istrimu setiap kali kita jalan-jalan.
Diam-diam aku mulai menabung untuk membeli baju-baju yang trendi agar tidak membuatmu malu. Tapi selalu berakhir dengan aku yang menghela nafas karena harganya bisa kita gunakan untuk ongkos mengunjungi orangtua kita.
Aku tahu bagimu pulang ke rumah di mana kau di besarkan adalah terpenting dibanding sekedar selembar baju untuk diperlihatkan ke orang lain.

Maafkan aku yang tidak tahu merk-merk tas terkenal, jam tangan, ataupun sepatu.
Diam-diam aku selalu googling tentang fashion terkini, sampai-sampai buku-buku yang gemar kukoleksi itu berdebu di pojok gudang.
Diam-diam aku memperhatikan merk-merk tas yang dipegang teman-teman kerjamu itu, sepatu-sepatu tinggi yang mereka kenakan, dan melirik jam-jam mengkilap yang meliliti pergelangan mereka.
Diam-diam aku juga mulai mencoba memasangkan sebuah sepatu tinggi itu (kata SPG-nya namanya stilletto) di kakiku ketika di mall, namun berakhir dengan aku yang terlihat seperti ondel-ondel naik egrang.

Maafkan aku yang selalu kurang nyambung saat mengobrol bersama teman-teman kerjamu.
Diam-diam aku membongkar-bongkar kembali koleksi buku-bukuku dan menyesali kenapa aku hanya berkutat dengan bacaan motivasi dan sastra.
Diam-diam aku mulai menonton televisi, menyimak infotainment, membaca majalah terkini, mencuri dengar obrolan ibu-ibu tetangga agar tidak hanya menjadi kambing congek di sekitar teman-teman kerjamu. Agar tidak berakhir dengan mengutuk diri betapa kupernya istrimu ini sehingga sering mendapat komentar “Kamu kok pendiam sekali, beda dengan suamimu.”

Maafkan aku yang sering membuatmu bingung karena aku jarang bergabung dengan siapapun di sini. Maafkan aku yang sudah membuatmu khawatir kalau-kalau aku stress karena tidak punya teman.
Maafkan aku yang pernah diam-diam menahan tawa sewaktu kau bersusah payah mengenalkanku kesana-kemari agar aku segera punya teman di lingkungan baru tempat kita memulai hidup bersama ini. Sungguh, jangan khawatirkan aku, aku tidak apa-apa. Mungkin kepribadianmu yang sangat ekstrovert itu hanya belum mampu memahami bahwa orang-orang introvert seperti istrimu lebih suka berkutat dengan buku-buku dan aktivitas munfarid-nya saja. Aku tidak stress, Sayang. Justru ketika berkumpul bersama teman-temanmu lalu membicarakan fisik dan keburukan orang lain seperti itulah yang membuatku kelelahan.

Sayang,

Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku. Kini aku tahu rasanya menjadi orang yang selalu dan selalu ingin memperbaiki diri. Kalau bukan cinta, aku tak tahu lagi apa namanya.







ratnalaila
(Pictures: “Soppy” by Philippa Rice)

Umur


Sebuah tulisan di buku harian:

Bagaimana jika kau bisa mengetahui kapan kau akan mati? Bagaimana bila setiap orang bisa mengetahui tahun keberapa, hari apa, jam berapa, dan detik keberapa tepatnya mereka akan mati?

Sebagian besar orang tahu kapan, jam berapa, hari apa dirinya lahir. Tapi bagaimana bila mereka bisa mengetahui kapan tepatnya mereka akan mati? Bayangkan bahwa dalam setahun, orang tidak cukup punya satu hari spesial untuk dirinya sendiri, melainkan dua: hari lahir dan hari kematian. Mereka merayakan hari lahir sebagaimana kita lihat sekarang, penuh suka cita, penuh doa dan pengharapan baik. Beberapa waktu kemudian, mereka memperingati hari kematian mereka, penuh kemuraman dan kesedihan, mungkin juga harapan bahwa kematiannya tidak akan terlalu sakit, tubuhnya tetap utuh ketika meninggal, keluarganya ada di sampingnya di hari terakhirnya, dan sebagainya, dan sebagainya.

Bayangkan setiap bayi yang baru lahir membawa informasi mengenai hari, tanggal, tahun berapa dia akan mati. Entah bagaimana informasi itu, berbentuk angka yang keluar bersama plasentanya ataukah tercetak di pusarnya, entah, kalian bisa mengimajinasikannya sekehendak kalian. Ibu dan ayahnya pun akan tahu, usia berapa si bayi itu meninggal. Bila toh usianya ternyata hanya sehari dua hari, mereka akan sedikit mencelos, tapi kemudian akan bisa menerimanya dengan tabah. Karena saat itu lumrah saja orang mengetahui kematiannya.

Ketika seseorang telah mendekati ajalnya, mereka akan merayakannya. Mereka mengundang semua keluarganya, kerabat dekat maupun jauh, tetangga, atasan, bawahan, agar berkumpul di dekatnya, menemaninya menjemput ajal. Mereka akan mempersiapkan acara ini jauh-jauh hari sebelumnya, mempersiapkan catering, dekorasi ruangan, bahkan busana, untuk dirinya sendiri maupun tamunya. Kalau perlu mereka juga mengundang organ tunggal atau orkestra untuk memainkan lagu-lagu sedih sebagai pengantarnya menjemput ajal. Sebelumnya, mereka mencetak undangan yang kira-kira berbunyi: “Mengharap kehadiran saudara/i pada acara kematian Bapak/Ibu______ pada pukul sekian sekian.” Kertas undangan akan dicetak dengan warna paling kelam, menggambarkan kesedihannya. Mereka akan memilih berbaring di hotel, di villa mewah menjelang detik-detik kematiannya. Ada pula mungkin yang suka di rumah saja. Orang yang tidak mampu secara materi, mungkin akan memilih berbaring di tikar terbaiknya, di kelilingi oleh sanak terdekatnya.

Bila yang akan meninggal itu petinggi negara, selebritas, atau orang penting, mereka akan menyiarkannya di seluruh media, meminta doa dan ucapan dukacita. Mereka memohon maaf kepada seluruh rakyat, pemirsa, atau semua saja yang merasa pernah disakitinya. Mereka akan banyak mengumbar kata-kata cinta, pada pasangannya, anaknya, ayah ibunya, kalau perlu pada orang yang dulu pernah ditaksirnya. Mereka akan melunasi hutang-hutang, membayar tagihan-tagihan, membagi-bagikan harta yang dipunyainya.

Karena sudah tahu hari itu dia akan meninggal, seorang sopir mungkin tidak akan menyopir hari itu. Seorang pembalap akan berhenti membalap. Seorang pegawai akan resign dengan alasan: menyambut kematian. Jenderal Sudirman tidak akan gigih bergerilya. Marie Curie tidak akan gigih meneliti radioaktif. Copernicus akan menurut saja pada teori geosentris. Tak akan ada karya-karya terbaik karena seseorang telah tahu kematiannya dan bisa pula memprediksi penyebabnya.

Kematian menjadi hal yang sangat lumrah, tidak lagi menjadi momok yang ditakuti dan menggerogoti batin setiap orang. Tak ada yang takut lagi dengan kematian. Bukankah sebetulnya orang hanya takut dengan sesuatu yang tidak pasti? Ketidakpastian yang paling menakutkan, yaitu kematian, justru akan menjadi tamu yang siap disambut dengan hangat, dengan orkestra indah dan makanan lezat.

Akhir-akhir ini aku suka sekali berandai-andai hidup di dunia seperti itu. Menjadi manusia yang digerogoti kanker dan divonis sisa umurnya, membuatku sering menuntut keadilan pada Tuhan: mengapa hanya aku dan sedikit saja orang di dunia yang mengetahui kapan dia akan mati? Mengapa orang lain bisa tertawa-tawa di dalam bus pariwisata yang semenit kemudian hancur tertabrak? Mengapa para kuli masih bisa bercanda padahal satu jam lagi kepalanya akan pecah tertimpa material? Mengapa hanya aku yang menghitung-hitung kalender menandai sisa umurku?

Aku tidak ingin sendirian menghadapi sisa umur yang-kata-dokter-tiga-bulan-lagi sialan ini. Aku ingin orang-orang yang masih tertawa di luar sana juga bisa mengetahui kapan dirinya akan mati.

15 tahun yang lalu, catatan ini ditulis oleh remaja yang tidak bisa menerima penyakitnya. Umur, bagaimanapun juga, bukan manusia yang menggenggamnya,desahku dalam hati. Lalu kututup buku harianku, kuletakkan di kardus bersama barang-barang kenangan ketika aku masih mengidap kanker dahulu.


ratnalaila ~ Kediri, 11 Oktober 2013
(Picture via vildeborse)